Friday, April 17, 2026
  • Buku Soekarno
Soekarno Studies Payungi
Advertisement
  • Opini
  • Sejarah
  • Diskusi
  • Buku Soekarno
  • Foto
No Result
View All Result
Soekarno Studies Payungi
  • Opini
  • Sejarah
  • Diskusi
  • Buku Soekarno
  • Foto
No Result
View All Result
Soekarno Studies Payungi
No Result
View All Result
Home Opini

Marhaenisme & Sang Proklamator

admin by admin
October 9, 2024
in Opini
0
Marhaenisme & Sang Proklamator
Share on FacebookShare on Twitter

You might also like

Rakyat Menggugat

Jalan perjuangan Soekarno Meletakkan Ide Persatuan Indonesia

Sang proklamator cum founding father, Soekarno jadi sosok revolusioner bangsa Indonesia dalam mencapai tangga kemerdekaan. Sebagai orator ulung dalam membakar semangat dan pergerakan rakyat, Bung Besar tak sedikit pun gentar menghadapi para bandit penjajah dan desakan-desakan global. Berkat kewibawaan dan nasionalisme yang telah mendarah daging di jiwanya, membawa sosok Soekarno sangat disegani oleh banyak pemimpin dunia.
Koesno Sosrodihardjo – nama Bung Karno waktu kecil – lahir di Surabaya, 6 Juni 1901. Ia lahir dari rahim seorang wanita bernama Ida Ayu Nyoman Rai dan ayahnya Raden Soekemi Sosrodihardjo. Soekarno kecil diasuh oleh Sarinah, seorang perempuan yang sangat mencintai Koesno. Ia juga belajar banyak tentang kisah pewayangan dan tembang Jawa dari tetangganya yang bernama Wagiman. Lahir dan berada di lingkungan yang plural, Bung Karno kecil terdidik sebagai sosok yang sinkretik, akulturatif, adoptif, adaptif, dan humanis. Kapital budaya yang didapatkan Soekarno sejak kecil inilah yang kemudian membawanya menjadi manusia luar biasa, pencetus ‘Pancasila’, sebuah masterpiece sekaligus karya budaya intangible bangsa Indonesia.
Soekarno menempuh pendidikan dasar di Eerste Inlandse School yang merupakan tempat ayahnya mengajar. Kemudian ia dipindahkan ke ELS (Europeesche Lagere School), sebuah sekolah Eropa berbahasa Belanda di Surabaya (1908-1915). Lalu, ia melanjurkan ke Sekolah Menengah di Hogere Burger School (HBS) Surabaya (1915 – 1920). Di sini, Bung Karno mengawali perjuangannya sebagai anggota Jong Java serta bertemu dengan HOS. Cokroaminoto pendiri Sarekat Islam (1902), Semaoen yang kelak menjadi Ketum pertama PKI (1922), Muso yang kemudian bertanggung jawab atas peristiwa Pemberonrakan Madiun (1948), dan Kartosuwiryo penggagas Darul Islam (1949).
Setematnya dari HBS, Soekarno melanjutkan kuliah di jurusan teknik sipil Technische Hoogeschool, sekarang menjadi ITB (1920-1926). Ia lalu mendirikan Algemeene Studie Club (ASC) dan setahun kemudian mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI). Soekarno muda kerap masuk keluar penjara dan diasingkan akibat dari aktivitas pergerakannya. Namun tekat juangnya yang besar dan jiwa nasionalisme yang kuat, membuat Bung Besar ini tidak pernah gentar menghadapi desakan kolonial dan terus konsisten menyebarluaskan ajaran Marhaenisme guna mengakomodir pergerakan rakyat untuk meraih kemerdekaan.
Marhaenisme menjadi simbol ideologi yang berisi refleksi pemikiran politik Soekarno. Tercipta dari hasil dialog dengan seorang petani miskin yang ia temui di pelosok Bandung bagian selatan. Soekarno berdialog dengan petani yang bernama Marhaen tersebut mengenai kepemilikan lahan dan alat produksi yang sedang digarapnya. Di dalam dialog dengan Marhaen, ia menemukan jawaban tentang teori kelas penderitaan minimum. Namun kelas ini menurut Soekarno bukan seperti yang dipaparkan oleh Mark dan para aktivis komunis sebagai kelas proletar atau buruh. Pasalnya, mereka memiliki alat-alat produksi sendiri, hanya saja terlalu kecil untuk menaikkan harkat sosial, politik, atau ekonomi.
“Seorang Marhaen adalah orang yang memiliki alat-alat yang sedikit, orang kecil dengan milik kecil, dengan alat-alat kecil, sekedar cukup untuk dirinya sendiri. Bangsa kita yang punya puluhan juta jiwa, yang sudah dimelaratkan, bekerja bukan untuk orang lain dan tidak ada orang bekerja untuk dia. Tidak ada pengisapan tenaga seseorang oleh orang lain,” demikian Soekarno menjabarkan arti Marhaen.
Marhaenisme menjadi simbol ideologi yang berisi refleksi pemikiran politik Soekarno. Tercipta dari hasil dialog dengan seorang petani miskin yang ia temui di pelosok Bandung bagian selatan. Soekarno berdialog dengan petani yang bernama Marhaen tersebut mengenai kepemilikan lahan dan alat produksi yang sedang digarapnya. Di dalam dialog dengan Marhaen, ia menemukan jawaban tentang teori kelas penderitaan minimum. Namun kelas ini menurut Soekarno bukan seperti yang dipaparkan oleh Mark dan para aktivis komunis sebagai kelas proletar atau buruh. Pasalnya, mereka memiliki alat-alat produksi sendiri, hanya saja terlalu kecil untuk menaikkan harkat sosial, politik, atau ekonomi.
“Seorang Marhaen adalah orang yang memiliki alat-alat yang sedikit, orang kecil dengan milik kecil, dengan alat-alat kecil, sekedar cukup untuk dirinya sendiri. Bangsa kita yang punya puluhan juta jiwa, yang sudah dimelaratkan, bekerja bukan untuk orang lain dan tidak ada orang bekerja untuk dia. Tidak ada pengisapan tenaga seseorang oleh orang lain,” demikian Soekarno menjabarkan arti Marhaen.
Menurut beberapa sejarawan, Marhaen merupakan kreasi sekaligus simbol ideologi yang diciptakan oleh Soekarno sendiri. Hal ini mengacu pada sosok Bung Karno yang suka menggunakan simbol-simbol politik untuk melawan kolonialisme. Pada tahun 1966 dalam editorial surat kabar PNI dan Kepolitikannya, muncul pendapat yang menyebutkan bawah Marhaen merupakan kependekan dari Marx, Hegel, dan Engels. Mengingat Soekarno juga pernah menyebut dirinya seorang marxis. Pendapat ini bisa jadi benar, bahaw lahirnya nama Marhaen yang kemudian menjadi simbol ideologi PNI (Partai Nasional Indonesia) merupakan hasil imajinasi dari kulminasi pengamatan dan literatur bacaan Sang Proklamator tentang marxisme.
Sejak bertemu dengan Marhaen – meskipun belakangan tidak ditemukan warga bernama Marhaen di Bandung bagian selatan -, Soekarno kerap menyebut ajaran-ajarannya sebagai Marhaenisme. “Marhaenisme merupakan ajaran sosialis Indonesia dalam praktik”, tegas Soekarno. Ide ini bertolak dari sosialisme dan keyakinan Soekarno akan penemuan kembali kepribadian rakyat Indoensia. Popularitas Marhaenisme semakin meluas dan menjadi sebuah identitas baru saat Soekarno menjabarkannya dalam pledoinya yang berjudul ‘Indoensia Menggugat’ di Landraad Bandung pada tahun 1930.
Mustika Edi Santosa
Previous Post

Hello world!

Next Post

Jalan perjuangan Soekarno Meletakkan Ide Persatuan Indonesia

admin

admin

Related Posts

Rakyat Menggugat
Opini

Rakyat Menggugat

by Fuad Hakim
October 10, 2024
Jalan perjuangan Soekarno Meletakkan Ide Persatuan Indonesia
Opini

Jalan perjuangan Soekarno Meletakkan Ide Persatuan Indonesia

by admin
October 10, 2024
Next Post
Jalan perjuangan Soekarno Meletakkan Ide Persatuan Indonesia

Jalan perjuangan Soekarno Meletakkan Ide Persatuan Indonesia

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Opini
  • Sejarah
  • Diskusi
  • Buku Soekarno
  • Foto
Call us: Instagram: @Payungi_

© 2024 soekarnostudies.payungi.org - Website designed by payungi.org.

No Result
View All Result
  • Halaman Utama
  • Sejarah
  • Opini
  • Buku

© 2024 soekarnostudies.payungi.org - Website designed by payungi.org.